Bertahan dibalik Sebuah Cobaan
Dalam bulan ini terjadi begitu banyak permasalahan dan cobaan yang bertubi – tubi datang silih berganti entah itu apa aja aku tidak tahu akan hal itu, dan bagaimana mengatasinya itulah hal yang saat ini sedang aku pikirkan matang – matang. Sejak awal aku merasakan bahwa ada yang salah dalam diri ini tapi aku gak tau apa itu dan aku mencoba mencari dan mengerti untuk mengatasi hal tersebut dalam sebuah kebijaksanaan yang dewasa dan penuh arti, akulah kini bukanlah siapa – siapa lagi di mata mereka maupun di mata kawan – kawan seperjuangan ku karena aku kini ya beginilah keaadaanku yakni sebagai sosok mahasiswa yang sedang berkembang dan ingin menemukan arti sebuah jati diri sejati untuk tetap bisa berkontribusi pada negeri dan bumi pertiwi.
Selama sebulan terakhir ini kegundahan hati semakin menjadi jadi ketika semua orang mengangap diri ini tak berarti lagi dengan keberadaanku yang ada tinggal di Ma’had Aly UIN Jakarta menjadi amanah tertinggi bagi aku pribadi untuk tetap dan selalu mengembangkan diri menjadi sosok kebanggaan adik – adik mahasantri yang sangat aku kasihi. Sebagai seorang mahasiswa tingkat dua di UIN Jakarta yang tak kalah ternama dengan kampus – kampus negeri yang lainnya aku kini mencoba menelaah dan berintropeksi diri bahwa aku sekarang hanyalah manusia kecil yang tak ada artinya diantara mahasiswa yang lain dan aku harus bisa mengejar ketertinggalanku menjadi sosok mahasiswa yang prestatif, kontributif serta mahasiswa yang inovatif. Hari ini tepat begitu banyak kegundahan dalam hati yang akan kuungkapkan dalam sebuah goresan tinta tulisan ini dan inilah aku dan perjuanganku selama ini, rasanya sakit sungguh sakit meskipun banyak yang mencoba bertahan di tempat ini tapi apalah artinya semunya hanya mengejar eksistensi saja dan absen belaka gak tau apa maksudnya mereka melakukan semua hal itu dan itu menurut aku hanyalah tindakan konyol belaka dan bagaimanapun hal tersebut harus bisa diperbaiki menjadi lebih baik lagi sebagaimna seperti apa yang kita harapkan kedepan. Arti hidup sering aku tanyakan pada diri ini selama aku tinggal di tempat baruku ini setiap hari banyak cerita dan kisah yang membuat hati dan diri ini tersentuh untuk selalu merenungi dan mendalami arti sebuah kehidupan sejati dan penuh perjuangan yang kini dan nanti akan terus ada. Akhir bulan april 2012 ini aku hanya bisa menulis di atas kertas akan kegundahan dan kegelisahan dalam hati ketika apa yang aku peroleh dan perjuangkan selama ini menjadi menyakitkan hati setiap hari, apakah aku harus diam aja menghadapi semua ini tanpa mencari jalan atau solusi yang berarti lagi ??? ( Tanya diri pribadi ) apalah artinya semua ini tapi hanya akan menyakitkan hati dan jiwa setiap hari dan tidak ada sebuah solusi yang berarti untuk menyelasaikan masalah ini. Ya itulah aku sekarang tanpa harapan yang besar lagi untuk bisa memperjuangkan hak yang telah aku miliki selama keberadaan ku tinggal di tempat ini, tempat megah, besar dan mewah sekali sehingga membuat para penghuninya lupa akan segalanya dan lupa akan sebuah cita – cita awal sebagai seorang mahasiswa sejati di kampus perjuangan ini.
DI kamar 10 tempat baruku ini menjadi saksi atas kelangsungan hidup dan bertahannya diri ini dari sebuah cobaan yang menerutku sungguh dalam dan sulit untuk di atasi, selama menjadi seorang penerima beasiswa yang setiap bulan mengharapkan uang saku dari pemerintah membuat diri ini semakin sakit mengingatkan hal itu,kenapa?ada apa? ( Tanya kawan – kawan seperjuangan di tempat baruku ini ). Kelangsungan hidupku untuk bertahan di Kota Jakarta merupakan harapan terbaik aku selama ini dan bisa berguna bagi lingkungan sesama, selama aku masih bisa bernafas di bumi ini setiap hari aku mencoba mencari kerjaan lain tanpa harus mengarapkan dan mengandalkan uang saku dari pemerintah yang tidak tahu kapan akan diberikan kepada para penerima beasiswa yang konon selalu menjadi kebanggan di setiap event maupun setiap acara – acara besar yang sungguh wahhhh kelihatannya. Makan pun susah dan gmna mau makan enak dan bergizi setiap hari hanya bisa merenungi dan mencoba mencari jalan keluar supaya bisa makan esok hari dan bertahan hidup tanpa mengandalkan Uang beasiswa lagi untuk hidup di kota Jakarta ini. Canda tawa yang dulu ada di tempat ini semakin hilang dan redup karena sebuah kebingungan dan kerisauhan hati yang tak kunjung ada solusi dalam menjalaninya.
Bertahan dibalik sebuah cobaan menjadi jalan awal untuk bisa bertahan hidup di kota ini agar bisa tetap menjadi mahasiswa yang berkontribusi lagi,selama ini aku mencoba bertahan dan bersabar akan semua ini tapi gmna aku bisa bertahan menjadi sosok mahasiswa yang berarti dengan keterbatasan ekonomi yang semakin melilit pribadi serta jiwa ini. Pikiran ku pun sekarang semakin pusing dan penat memikirkan ini dan apa yang harus aku lakukan untuk menjadi orang yang peduli lagi dalam saat – saat genting seperti ini. Pada saat aku menuliskan goresan pena ini keadaan ekonomi ku sungguh memprihatinkan dan kini aku hanya punya uang 20.000 rupiah untuk bertahan hidup selam akhir bulan ini dan apa yang harus aku lakukan untuk mengatasi dan menyelesaikan masalah yang selalu menghantui pribadi ini setiap hari.
Mahasiswa yang kontributif tanpa menunggu bola dan akan selalu mengejar bola untuk meraih mimpi dan cita – cita yang kini terkendala dengan beasiswa.
@Ruang PLT kampus perjuangan.

